2

Cara merawat clodi (popok kain)

Libur telah tiba,,,libur telah tiba,,,
Heyhey karena liburan akhir tahun dihabiskan di rumah saja yang isinya beberes rumah, camping deket rumah, main sama Jani dan yanda, boleh donk waktu luangnya buat nuntasin pe er di 2015 yang sudah siap-siap berganti jadi 2016.
Kali ini mau berbagi pengalaman menggunakan clodi aka cloth diaper aka popok kain :)

Alhamdulillah, sejak hamil Jani, saya dan yanda sepakat untuk menggunakan clodi. Mulai dari mencicil (beli satu demi satu) si clodi sampai urusan rendem cuci si clodi yang sampai hari ini masih dipakai Jani, baik yanda dan saya masih menikmati dunia perclodian ini. Alasannya simpel: go green! Hehehe dan sekarang alasan simpel ini berganti dengan: tidak hanya jaga lingkungan, tapi juga jaga dompet. Hemat,beb! Jani udah masuk 16 bulan, yang artinya sudah 16 bulan juga kami berjibaku dengan clodi.
Dan mashaAllah....beneran hemat berclodi ini ketimbang beli pospak dengan harga promo.
Walaupun sejak masuk usia 3 bulannya, Jani sesekali dipakaikan pospak jika sedang jalan-jalan agak lama.
Dan ya, karena selama liburan ini cuaca cantik banget, cuci clodi sehari kering, jadi rencana beli pospak Jani masih pending, kemarin-kemarin sejak memasuki musim penghujan, Jani dibekali pospak 1-2 lembar per hari.

Sesuai judul, saya gak akan review clodi dan brandnya di postingan kali ini ya, postingan ini khusus untuk berbagi pengalaman merawat clodi. Sampai saat ini, clodi Jani, baik cover maupun insertnya masih putih bersih, ini mungkin dipengaruhi faktor A yaitu AIR. Air di kawasan bandung bagian utara ini tergolong jernih dan bening, dan ini yang membuat warna clodi masih bertahan sesuai warna aslinya. Alhamdulillah....

Ohya sebelum lanjut, kalau ada yang bertanya, boleh gak cuci pakai mesin cuci? Saya akan memilih untuk menjawab tidak. Karena clodi ini tergantung daya serap kainnya, menggunakan mesin baik untuk mencuci, membilas ataupun mengeringkan clodi, ini akan membuat daya serap clodi menjadi menurun, sekalipun mencuci-mengeringkannya di mesin cuci menggunakan kantong jaring (clodi dimasukkan ke dalam kantong jaring khusus).

Yuk kita masuk ke bagian cara mencuci clodi:

1. Rendam di air bersih sebelum mencuci clodi
Caranya: clodi penuh ompol taruh di ember, pisahkan dulu ya insert dan covernya (bukan di ember yang berbeda) tapi untuk memastikan daya rendamnya baik, karena ada tipe clodi yang insertnya masuk dalam kantung :) isi air bersih, pastikan clodi terendam sempurna.
Jika clodi terkena pup, pastikan sebelum direndam, pupnya sudah dibersihkan dulu. Bersihin pup di clodi gampang-gampang susah di awal, tapi akan jadi mudah kalau sudah terbiasa. Caranya: buang pup ke closet, sisa pup yang masih ada sirami dengan air keran, rata-rata air keran kalau ngocor akan memberikan daya semprot yang kencang, nah, daya inilah yang kita butuh untuk nyopotin sisa-sisa pup yang melekat di clodi. Tak apa jika warna bekas pup masih ada, asalkan pupnya sudah hilang ya,momsdad!
Saya biasanya merendam clodi bisa sampai 2x ganti air. Kebetulan Jani adalah tipe bayi yang sekali pipis banyak,hehehe dan pipisnya bayi perempuan ini baunya beda banget sama bayi laki-laki aka lebih pesing, jadi 2x rendeman itu buat bikin si clodi bersih dulu dari pipis.
Berapa lama biasanya merendam? Semalaman pernah, 1 jam juga pernah.

2. Bilas clodi yang sudah direndam dengan air bersih. Isi ember dengan air bersih kemudian larutkan detergen cair sedikit saja. Next, rendam clodi 10 menit saja, untuk insert yang tidak kena pup tidak perlu dikucek, jika terkena pup, kucek pelan di bagian yang masih ada noda saja. Kenapa detergen cair? Karena detergen cair mudah larut dan tidak meninggalkan sisa-sisa bubuknya dalam clodi. Boleh pakai detergen khusus bayi? Sebaiknya tidak, karena detergen khusus bayi biasanya mengandung pelembut, pelembut ini akan mengurangi daya serap clodi. Tenang aja, clodi itu lembut lho...Sampai saat ini Jani belum pernah alami rash karena clodi, berbeda dengan menggunakan pospak.

3. Bilas clodi yang sudah direndam detergen, dengan air bersih sebanyak 2x, untuk memastikan busa detergen bersih dari clodi.
Ohya, ketika memeras clodi, disarankan tidak perlu dengan tenaga dalam ya,hehehe, peras biasa aja, biar gak merusak lapisan-lapisan yang ada di clodi.

4. Clodi yang sudah dibilas, saatnya untuk dikeringkan, boleh terkena matahari langsung dan boleh juga tidak. Saya sejauh ini belum mengalami retak di cover karena dijemur langsung di bawah sinar matahari :D
Ada momen wow ketika jemur clodi lho, coba deh lihat insert bekas pup yang sering meninggalkan jejak kuningnya di insert, ketika dijemur akan hilang sendiri. Yeayyy!

Selesai.....

Gimana, mudah bukan? Asal sabar menjalani masa-masa berclodi, pasti akan berbuah senyum, senyum bisa nyelametin lembaran-lembaran uang seratus ribuan rupiah dan senyum karena sudah bantu menjaga bumi. Zaman dulu, ketika belum ada pospak, masa-masa punya bayi, sibuk mencuci popok juga dialami orang tua kita :) Jadi seni,kan? Hehehe.

Jadi, yang sedang bersiap menimbang pakai clodi atau pospak, coba 22nya saja dulu, mudah-mudahan betah dengan berclodi ya! Hehehe. Semangat berhijau!

Love,
-Manda Jani-


2

Dream Flash 2016: Oppo R7S

hayhallo!

Tahun baru tinggal hitungan hari, apa kabar resolusi 2015 yang kita buat dan bingkai dalam hati di akhir tahun 2014 yang lalu? Berapa persen nih resolusi yang tercapai, sobat?
Ok, bahas tahun baru, identik dengan semangat baru. Tentu saja kita gak mau donk hal-hal lemah yang ada pada diri kita di sepanjang 2015 semakin melemah di 2016?

Ok, saya akan bahas satu impian yang mau diwujudkan segera di 2016. Duniawi memang, hehehhe. Jadi selama 2015, setelah adik saya merengek untuk minta handphone saya si yoni yang saya sayang banget *lebay, dan harus rela bersama dengan tablet nyamnyung yang bermasalah sekali dengan baterenya. Huh ngos-ngosan saya dibuatnya. Akhirnya diputuskanlah untuk mencari pengganti. Sudah ada? Belum sih. Saya baru dalam tahap lirak lirik, pilah sana pilih sini. Dan wow! Saya dibuat klepek-klepek dengan kehadiran Oppo R7s, klepek-klepek karena fitur WOW yang ada di Oppo R7s dan pastinya berbanding lurus dengan harga yang wow juga untuk kantong saya. Oke, tidak apa. Yang namanya mimpi dan rasa suka, baiknya diungkapkan kan ya? Perihal akan dikabulkan atau tidak, itu bukan kapasitas saya sebagai manusia,heheheh.


Menurut CEO OPPO Indonesia (8/12/2015) Oppo R7s ini adalah smartphone pertama dari OPPO dengan tagline flash: flash performance, flash charging dan flash camera focus. WOW lagi bukan?

Ok, mari kita lihat Spesifikasi Oppo R7s:

Operating System: ColorOS 2.1, Android 5.1
Processor type: Qualcomm MSM8939 Octa-core
RAM 9gb): 4GB
Capacity: 32 GB
Battery type: 3070 mAh Li-Po (unremovable)
CAMERA: 13 Mp & 8Mp
Screen size: 5.5 inchi
Sim card: dual sim (nano/micro)

Dan buat yang gak suka pegang gadget berat, here we go! Oppo R7s ini sangat ramah genggaman banget, lihat aja nih ditel ukurannya:

Weight: 155g
Thickness: 6.95mm
Length: 151.8mm
Width: 75.4mm

layar tepi lengkung , cover metalik beludru, dan yang sangat penting optimasi anti guncangan. Sangat wow bukan? Oppo R7s akan pas banget untuk nemenin tahun baru 2016 yang kita harap akan jadi tahun yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
Yuk yuk mari, biar semakin kesengsem sama Oppo R7s cuss kita tonton videonya ^___^ 





Gimana? Udah ada yang kesengsem sama Oppo R7s  setelah nonton video tadi. Yang warna gold minta dimasukin saku banget yak, hehehehhe.Dan inilah 7 alasan kenapa saya kepengen banget punya Oppo R7s  ini?
1. Karena Oppo R7s bisa bikin saya aktif atau eksis seharian
Keren banget gak sih, punya gadget dengan kamera yang bisa nemenin kita kalo lagi sight seeing melihat kanan-kiri depan-belakang atas-bawah tanpa risau sama yang namanya baterai. 
Bagi saya yang suka jalan-jalan, ini keren banget! Apalagi jalan-jalan ke tempat yang susah sekali ketemu colokan listrik: mendaki gunung, lewati lembah misalnya :)

2. Karena  Oppo R7s punya 4GB RAM, yang artinya kecepatan semakin tinggi dan muatan semakin besar!
Emak-emak pekerja seperti saya, yang suka sekali blogging, baca online, ngumpul di socmed, ini wajibun kudubun banget hehehe. Multitasking tapi gak bikin nge-lag si gadget. Ulalaaaa, ini yang dicari!

3. Karena  Oppo R7s kualitas gambarnya ultra HD
bisa bebas milih kamera belakang atau depan untuk mengabadikan memori-memori seru yang bakal dialami setiap detiknya. Dan ya like  Oppo R7s said: Do not ever forget the detail! Don't!

4. Karena Oppo R7s punya new flash shot andalannya
Momen-momen yang flash, yang sering banget gagal ditangkap hanya karena kameranya lama mendeteksi objek. Ini perih banget, saya masih alami, hihihi. 

5. Karena Oppo R7s bisa SIM Ganda 4G
4G yang sedang diperkenalkan oleh operator seluler Indonesia, yang mana ini juga penting buat maksimalkan komunikasi. Pengen banget deh bisa video call tanpa lelet dan noise-noise lainnya. 

6. Karena Oppo R7s performa perangkatnya unik banget
Bezel ultra tipis2.2mm, layar tepi lengkung 5.5 inci, mereka ini yang bikin Oppo R7s sangat terlihat elegant.

7. Karena saya belum pernah mencoba perangkat OPPO, dan inilah saatnya untuk saya bisa mencoba serunya berseluncur di dunia gadget bersama Oppo R7s.

Wish me luck,then! Go grab your Oppo R7s, fellas!

3

Ibu hamil mendaki gunung Rinjani #Part 3

Sebelum lanjut cerita part 3 dari perjalanan menuju pendakian gunung Rinjani, saya mau membahas sedikit kebiasaan Ibu hamil di trimester ke dua: semangat makannya semakin bertambah, semangat pipis juga lumayan meningkat, ini trimester favorit bagi saya, hehehe, karena di trimester awal, saya lumayan kena dampak sugesti bahwa hamil itu ya ada mual-mualnya, makan tidak terlalu rakus, hehehe. Dan perut masih belum begitu pengap jika diisi makanan, berbeda dengan trimester tiga yang saya rasa, minum air pun bisa bikin penuh perut :p
Jadi, trimester kedua ini saat yang pas buat menikmati lagi hobi bertualang, dimana kondisi ibu dan jabang bayi sudah mulai stabil menurut saya. Alasan ini juga yang memperkuat semangat saya untuk melakukan perjalanan pendakian berdua dengan suami, mendaki gunung Rinjani.

oke, mari kita lanjut....
Setiba saya di pasar Aikmel, perut sudah ada yang ketuk-ketuk, mata berbinar melihat jajanan ala pasar yang disajikan disana: ada bakso, gorengan, kue-kue basah dan jajanan lainnya. Sayang, suami tidak mengizinkan untuk makan selain bekal yang sudah kami bawa, karena perjalanan kami baru akan dimulai dari pasar Aikmel ini.
Sambil menunggu dan melihat-lihat pemandangan yang disuguhkan pasar, saya diminta menunggu dekat keril yang sudah disusun rapih oleh suami, karena suami saya akan menanyakan ke Bapak supir mobil bak terbuka yang sepertinya siap berangkat, apakah masih tersedia 'seat' untuk 3 orang (ya, itu buat kami berdua dan keril,hehehe). Dan yap, kami masih bisa ikut menumpang, tidak ada pilihan lain, mobil bak terbuka inilah yang akan membawa kami ke kaki gunung Rinjani yaitu desa Sembalun :)

Mobil ini spesial, bisa pilih mau duduk menghadap kemana, karena semua arah tersedia, hehehe, ya bisa dibayangkan sendiri eksotisnya menaiki mobil bak terbuka. Bersama kami, naik 2 orang ibu paruh baya, membawa 2 karung bawang putih yang bisa dipastikan itu bawang putih impor :(. Haishhhh, syukurlah masa mual sudah berlalu, jadi berdampingan duduk dengan si bawang tak akan jadi masalah. Dengan jumlah penumpang 3 orang dewasa dan dua orang anak kecil, bismillah, kami berangkat menuju desa Sembalun.


Di sepanjang jalan, saya dapat merasakan segarnya udara hutan, pukul 10 pagi di kala itu, matahari sedang di posisi tepat bagi saya untuk sedikit merasakan terpaan sinar mentari pagi ditambah angin gunung yang sudah mulai terasa. Untuk mengurangi jenuh, saya lanjutkan makan bekal (pear xiang lie dan choco crunch dan susu), sesekali terus merayu dua anak kecil dan ibu-ibu yang duduk tak jauh dari saya, walaupun sukses ditolak sambil membalas senyum terkantuk-kantuk. Saya juga tak ketinggalan mengantuk. Tapi kantuk saya tidak bertahan lama, karena ada sekawanan monyet yang selalu meyambut ketika ada mobil lewat, sepertinya mereka hafal, jika ada mobil lewat pasti akan ada makanan yang dilemparkan untuk mereka. Melihat jarak antara mobil dan kawanan monyet tidak terlalu jauh, sayapun bertanya ke ibu-ibu yang di sebelah saya: Boleh saya kasih makanan? Bolehla, kata ibu itu dengan cepat.
Choco crunch dan sisa pear saya lemparkan dan wuzzzz mereka berebutan satu sama lain. Seruuu...! Dan...1,5 jam berlalu, sampailah kami di basecamp gunung Rinjani. 




Kami melakukan registrasi di basecamp, bayar tiket masuk dan bernegosiasi dengan porter yang dicari langsung oleh salah satu petugas basecamp. Sayang, cerita tentang porter ini sedikit pahit, sehingga kami memutuskan untuk mendaki berdua saja, tanpa porter, sementara keril yang berat itu murni dibawa sendiri oleh suami saya.
Tentang porter akan dibahas di judul sendiri ya ;)

Jam 1 siang kami putuskan untuk memulai pendakian. Diantar dengan motor sampai di bawak nao, biar memotong track, itu pesan teman saya. Dan benar saja, disana banyak bule yang sudah menyelesaikan pendakiannya, berkumpul pula porter yang ikut dengan si bule. Sayang, mereka terlalu lelah jika harus langsung mendaki, jadi usaha mencari porter pengganti pupus sudah.
Jam 1.30 mulai menyusuri bawak nao, bertemu ladang, gerombolan sapi yang dibiarkan begitu saja mencari makan, dan istirahat sejenak untuk makan siang dengan memandang puncak Rinjani.
bumil sedang menikmati nasi udang yang dibeli di rm. dekat basecamp sembalun


2 keril super berat, deuter itu harusnya saya yang bawa,
 tapi suami merasa ia masih kuat untuk bawa dua keril itu

Makan selesai, hawa sudah mulai dingin, lama berdiam akan semakin dingin. Jadi setelah suami selesai merapihkan ulang keril, kami mulai berjalan lagi. Dan Maha Baik Allah pertemukan kami dengan 1 grup yang juga sedang mulai pendakian. Mereka bertiga yang selanjutnya akan banyak menolong kami, yang kami repotkan perjalanannya. Mereka adalah Mas Jan dan tim.
Inilah mereka:

Sengaja disamarkan foto ini, biar penasaran,
heheheheh, padahal yang ambil foto lupa setting mode :p
Perjalanan menuju pos 1 masih kuat saya lalui tanpa banyak mengeluh capek, karena mengejar matahari yang sudah akan terbenam. Penyakit saya, kalau melihat gelap takut akan semakin menghantui. Jadi saya kuatkan untuk mengikuti ritme Mas Jan dan timnya. Setelah melewati ladang, kami akan masuk ke kumpulan hutan yang menurut cerita Mas Jan, baiknya kami bisa keluar dari situ sebelum maghrib. Hamdalah, we made it!
Setelah shalat maghrib di pos 1, kami lanjutkan lagi perjalanan, hari sudah mulai gelap dan saya sudah mulai parno, jadi disusunlah urutan baru: teman mas Jan 1, Mas Jan, saya, suami dan teman mas Jan 2. Agak tertatih saya rasakan, karena memang kondisi psikis saya sudah tidak prima lagi. Hampir 2 jam dari pos 1 menuju pos 2, saya dengar samar-samar Mas Jan dan tim diskusi untuk mau lanjut saja ke pos 3 dan akan ngecamp disana, dan kami, disarankan untuk ngecamp di pos 2 saja. Mengingat saya yang sudah tidak ada lagi suaranya, pasti itu lelah sekali kata Mas Jan. Mengingat kami ini kan tujuannya menikmati alam, tidak ada target khusus disana, yang jelas ada 2 hari lagi spare waktu kami di Rinjani, sebelum bertolak kembali ke Bandung via Bali.

Sampai di pos 2 kira-kira pukul 7.30, saya amat senang, ini waktunya saya beristirahat, dan lagi, disana sudah ada yang ngecamp 1 tenda. Mas Jan dan tim pun tidak lantas meninggalkan kami dan terus melaju ke pos 2, tapi berhenti untuk istirahat di pos 2. Kami makan snack bawaan teman Mas Jan dan menyapa penghuni tenda yang sudah ngecamp, rupanya ada Dian dan temannya yang telah selesai mendaki. Tak lama kemudian, datang 1 grup jumlah anggotanya sembilan, mereka bawa 3 porter dan akan meneruskan perjalanan sampai ke pelawangan sembalun malam itu juga. Sama seperti Mas Jan dan tim, mereka pun berhenti di pos 2 untuk istirahat dan bertukar sapa dan makanan. Mereka dari Jakarta rupanya. Satu yang menarik dari grup ini adalah beberapa dari mereka melakukan trail running pada saat pendakian, wow. Malam-malam, trail running, itu seruuuu bukan? hehehe, trail running ampuh untuk usir penat bagi mereka yang suka, saya  sih lumayan suka untuk agak trail running ketika turun pendakian, hehehe.
Kami menghabiskan malam di pos 2, melihat bintang yang jaraknya begitu dekat. Mas Jan dan tim membantu sampai suami mendirikan tenda. Setelah tenda set, saya pun langsung shalat isya dan melakukan rutinitas: minum obat penguat rahim dan makan lagi, kemudian baru tidur, seingat saya, suami masih melanjutkan obrolannya dengan Dian.

lanjut di part 4 ya....

Biaya yang dikeluarkan:
Mobil bak terbuka dari pasar aikmel-sembalun: 30.000/orang
Ojeg dari basecamp sembalun ke bawak nao: 15.000/orang
Nasi bungkus dengan udang goreng dan sayur: 30.000
Nasi bungkus dengan ikan laut dan sayur: 35.000





5

Ibu hamil mendaki gunung Rinjani #Part 2

Refreshing sedikit ah...Mau lanjut cerita ini! ^o^

Masuk hari ke-2 itinerary kami, pagi-pagi buta sudah merapat di pelabuhan Lembar, Lombok. Semestinya perjalanan padang bai-lembar menghabiskan waktu 5 jam, tapi kali itu cukup 4 jam saja sudah merapat di pelabuhan lembar. Speaker kapal mengumumkan bahwa kapal telah merapat dan para penumpang dipersilahkan turun. Ibu dan Bapak kenalan kami ini yang sedari awal perkenalan sudah tahu bahwa kami akan mendaki Gn.Rinjani, kemudian bertanya: Karena masih pagi sekali, disini belum ada angkutan umum. Baiknya ikut kami ya, Bapak kan mau ambil motor di kantornya, nanti kalian tunggu saja di kantor Bapak ya? Kami yang memang cuma berdua saja sangat senang dapat tawaran bahagia ini. 
Turun dari kapal, seperti biasa, banyak para calo yang menawarkan mobil sewaan, ojeg motor dan tentu saja pakai acara maksa-maksa :p Tapi itu tidak terjadi pada kami, para calo itu cuma menyapa Bapak, karena sepertinya Bapak kenalan kami ini cukup dikenal disini :)
Sampai kami di kantor Bapak kenalan, yang rupanya Kantor Polsek Lombok Barat. Disana ada 2 orang petugas jaga, mereka sedang rebahan di kursinya karena memang masih sangat pagi. Tapi ya yang namanya atasan datang, mereka seketika sigap. Dan melakukan salam hormat ke si Bapak kenalan. Selesai menyapa, dan Ibu kenalan memberikan oleh-oleh (yang isinya kopi, dkknya), Bapak kenalan menjelaskan bahwa kami ini keponakannya dari Bandung dan akan mendaki Gn.Rinjani, Bapak ini berpesan untuk mencarikan kami angkutan umum jika sudah jam 6 nanti. Dan tanpa banyak basa-basi rekan Bapak kenalan mengiyakan dan membereskan sofa agar kami bisa duduk dan mungkin bisa tidur sebentar sambil menunggu pagi. Bapak dan Ibu kenalan kami berpamitan untuk pulang, karena pagi harinya mereka harus bertugas kembali, saya dan Ibu berpelukan begitupun Bapak dan suami saya. Dan tak lupa Ibu menyimpan nomor hp saya dan minta beliau dikabari ketika kami akan mendaki dan selesai mendaki. 

Dan saya yang namanya Ibu hamil, pasti masih ngunyah aja jam segitu, nyemil pear bawaan dari bandung X_X sambil sesekali takut melihat gelap, yaiyalah namanya juga polsek, mana ada gorden tertutup seperti di rumah. Suami sih tidur :D Jam 4.30 WITA azan berkumandang, saya buru-buru membangunkan suami agar kami segera berangkat ke masjid karena saya sudah gak sabar untuk pergi ke TOILET hihihi Jalan kaki menuju masjid yang jaraknya cuma 7 meter saja dari polsek lombok barat. 
Subuh selesai kami tunaikan, dan masih agak gelap juga, akhirnya kami lakukan olahraga ringan saja di jalan menuju polsek. 
Dan pukul 6 WITA, waktu yang kami tunggu pun tiba. Bapak petugas juga sudah berganti orang, karena jam 6 mereka berganti petugas. Suami yang memang ringan tangan, menyapu halaman polsek, tidak banyak sampah, cuma daun-daun dari pohon kersen di depan polsek saja. Bapak polisi menawarkan teh hangat dan kopi hangat, sambil meminta kami untuk menunggu sebentar, karena beliau mau jalan ke depan untuk cek apakah sudah ada angkot menuju ke terminal mandalika. 
Dan tak lama, Bapak polisi pun kembali diiringi angkot putih di belakangnya, wow, angkotnya malah menjemput kami. Bapak polisi bilang nanti bayar saja 20.000 untuk 2 orang, tadi saya sudah bilang untuk diantar di depan terminal mandalika. Siap, Pak, terima kasih banyak. Kami pamit dan tak lupa suami mengambil gambar dengan Bapak polisi sebagai kenang-kenangan untuk cerita kami.

Terima kasih, Pak Polisi :)

Di sepanjang jalan menuju terminal Mandalika, abang supir angkot ini bertanya kami mau kemana, karena tujuan kami adalah mencari elf untuk ke Pasar Aikmel, jadi kami baiknya tidak turun di mandalika, tepatnya di peremapatan bertais saja, karena disana banyak elf yang mangkal, awalnya kami ragu dan ingin minta di mandalika saja, tapi saya yakinkan suami untuk mengiyakan saja, toh ini kan jalan-jalan :)
Kami turun di perempatan bertais dan benar saja, abang angkot langsung ngobrol dengan supir elf yang akan menuju aikmel. Alhamdulillah...
Masih pagi dan masih sepi, kami duduk di warung tepat di depan mobil elf terparkir. Saya memesan teh hangat yang cuma 1500 saja, sayang tidak ada kue, jadi saya ngunyah choco crunch saja ditemani teh hangat ini.
Waktu yang ditempuh dari bertais menuju Pasar Aikmel ini 1 jam dengan biaya 30.000/orang. Sepanjang jalan menuju Pasar Aikmel, kami disuguhi sebagian wajah masyarakat lombok, ibu-ibu berkain sarung dan duduk menyamping ketika dibonceng, adik-adik pelajar yang bersepeda menuju sekolahnya, pesantren-pesantren di sepanjang jalan. Ah...rindu sekali.
Saya duduk di dekat jendela agar bisa sesekali melongok keluar jendela sekaligus persiapan kalau-kalau ada bau-bau tak sedap di dalam elf :)

1 jam perjalanan dengan berhenti mencari penumpang berkali-kali di setiap pasar yang kami lewati, cukup menambah serunya perjalanan pendakian kami berdua(tiga) ini.
Dan inilah pasar aikmel, berada di pertigaan jalan. Di sebelah kiri pasar ada masjid, dan ada simpang aikmel, inilah jalan yang akan membawa kami menuju Gn. Rinjani.


Lanjut di #part 3 ya....

Total pengeluaran inti di hari kedua:
Angkot Pelabuhan Lembar-Terminal Mandalika (bertais): 10.000/orang
Elf dari Bertais-Pasar Aikmel: 30.000/orang



2

Tentang Bahasa


Hay hay Hallo...

Assalamu'alaikum semua..
Apa kabar?

Throwback years years ago...

Saya pernah lho di-bully ketika mudik ke kampung halaman Ayah saya, OKI, tepatnya Kayu Agung, yang bahasanya sama sekali tidak saya fahami sampai sekarang. Paling banter saya bisa berkomunikasi pakai bahasa Plembang (Palembang). Seperti apa bully yang saya alami? Sederhana sih, tapi berbekas hehehe, misalnya: Menyebut diri sendiri 'Saya orang gila, saya busuk, belum mandi', kata-kata jorok juga termasuk disitu :(
Mengapa ini terjadi? Sangat amat bisa, karena di rumah Ayah saya tidak pernah mengenalkan bahasanya kepada kami, Alm.Mama pun bisa karena sering mendengar. Mama yang asli bangka besar di daerah Mentok, yang bahasanya melayu dan Ayah saya asli dari Kayu Agung, OKI. Saya kecil lebih banyak menggunakan bahasa Bangka, karena itulah Bahasa Mama saya dan bahasa tempat kami tinggal. Pun dialeknya yang bangka standar saja.

Sekarang, saya dan Yanda sedang di masa-masa emas pertumbuhan putri kecil kami, Rinjani. Jani di umurnya 13 bulan ini, yang paling menonjol adalah kemampuan bahasanya, termasuk komunikasi menerima dan merespon apa yang kita ucapkan.
Dulu, sebelum Rinjani lahir, kami sepakat akan mengenalkan berbagai macam bahasa, ada 5 sepertinya X) Kenapa bisa 5?
Ya, karena saya berasal dari Bangka, otomatis bahasa Bangka akan saya masukkan dalam daftar (1), bahasa Jawa yang akan diajarkan Yanda (2), bahasa Sunda yang kami bisa, tentu saja yang standar, minimal bukan yang kasar (3), bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional (4) dan terakhir bahasa Asing, bahasa Inggris (5).

Dan saya baru sadar, eh tapi apa enggak bahaya, enggak takut Jani kebingungan? Enggak takut malah fatal semuanya gak difahami?
Akhirnya muncul juga rasa was-was dan hamdalah, saya ketemu artikel dari the urbanmama yang ini nih: bahasa ibu sebagai kunci pengembangan mental
Okeh sip, Sekarang kita evaluasi perkembangan bahasa Jani sejauh ini:

- mengerti instruksi, apalagi kalau yang ngomong itu Yanda :D dan ini sering membuat saya iri, apakah suara saya begitu cempreng sehingga Jani ogah-ogahan? :p

Dengan bahasa campur-campur:
adek, lenggah.. (bahasa Jawa, arti lenggah itu duduk) Jani, sit down, please! nah kalau bahasa Inggris, kami pasti akan menerjemahkannya juga: adek, duduk yuk.
adek, ini Sovia (sambil menunjuk Sovia di majalah), bando (sebagai ganti Tiara hihihi) Sovia dimana ya? dan Jani akan merespon: nnnyiii sambil memegang kepala bagian atasnya.
adek, yo makan yo (bahasa Bangka) dan Jani akan respon dengan mam..mam..
adek, kenapa nangis, sini atuh peluk manda dulu (bahasa Sunda sedikit)
adek kiss bye, dadaagh, salim

- bisa berceloteh dengan bahasanya jika sedang membuka buku cerita (mau saya tulis tapi bingung nulisnya :p), seru deh kalau lagi moodnya dia cerita bisa sampe 1 menit gak berhenti.

- memegang handphone dan bilang: mbak, kek..(karena seringnya melihat kami menelpon sambil mengajaknya ikut nimbrung di telepon)

-sujud kemudian tangannya memeperagakan berdoa dan bilang Awoh, ini maksudnya Jani sedang shalat atau yanda atau manda yang sedang shalat

-bilang mimik kalau mau minum (dulu mik, sekarang mi..mik), agih (kalau lagi buru-buru minta disuapin), bagi (iini bahasa bangka untuk meminta sesuatu).

-dek, mandi yuk, setelah bilang begini, respon Jani akan mengusap-usap tangannya (seperti gaya orang sedang mandi), dan usap-usap mukanya.

-kalau kami bilang satu, dua..ti...Jani akan merespon dengan 'gaaaa', kalau one, two,...Jani akan merespon dengan 'ti..sebagai ganti three'

Ahh, senangnya bukan main kami bisa bertemu, merasakan dan menikmati momen ini :) Walaupun kami bekerja, setiap kami bekerja Jani dititipkan di teteh yang mengasuh, momen-momen seperti ini tidak 'hilang' dalam kehidupan kami. 
Semoga sesibuk apapun aktifitas kita di luaran, ketika kembali ke rumah kita bisa kembali menikmati tugas sebagai orang tua, ya..
Amiin

Salam,

-Manda-











3

Rinjani itu

Rinjani itu 

Cintanya Manda dan Yanda
Pelipur lara di kala penat melanda
Bintang paling bersinar di hati
InsyaAllah jadi bekal kami untuk menginjak taman Syurgawi
Amiin

*******

1 tahun lebih 2 minggu sudah kami menapaki hari menjadi orang tua. Rasa-rasanya masih belum pantas dipanggil orang tua, mungkin lebih tepatnya baru sampai tahap melahirkan, mengasuh dan membesarkan. Betulkah?

Ini juga alasan saya yang enggan dipanggil Ummi, rasanya koq saya jauh dari sebutan itu ya, karenanya saya minta dipanggil Manda, sebagai ganti dari Mande dalam bahasa minang.

Hari-hari tambah terasa sejak ada manusia kecil yang dulunya cuma berada di dalam perut, tapi sekarang sudah bisa dipeluk. 

Kadang kelucuan Rinjani sering menyulut sumbu sabar saya yang tidak seberapa ini, sedih rasanya kalau sempat mengeluarkan nada meninggi ketika menegurnya, terlebih sekarang ini sedang masa aktifnya untuk mengeksplorasi sekitar. Semua mau dijamah, semua mau dimakan, semua mau diulik, entah itu bahaya atau manfaat. 
Kalau sudah berdua, yang tadinya sepi pasti menjadi ramai, ramai menegurnya, ramai bercanda tawa dengannya..

Doa kami semoga Allah tetapkan iman dan islammu, ya, nak! Karena itulah modal utama untuk menyelesaikan cerita hidup. Bertumbuhlah dengan bahagia, sehat, ceria.. Kami tidak perlu menunggu agar engkau menjadi sesuatu agar dicintai. Sejak hari dimana kami mengetahui bahwa engkau hadir di dalam rahim ini, sejak itu pulalah cinta kami sudah bersemi untukmu.

Kami yang selalu mencintaimu, Rinjani :*

-Manda&Yanda-


3

Kopdar Akbar TUMBC Agustus 2014

Assalamu'alaikum,


Hayhay Hallo semua.

Rasanya saya gak selesai-selesai deh merasa Agustus ini bulan penuh keseruan. ya perayaan Kemerdekaan Indonesia yang ke-70, Ultahnya Jani dan hmm satu lagi acara seru. Jadi ada satu acara yang sudah lama sekali saya nantikan, awalnya cuma ingin bertemu peluk dengan semua mama yanga da di supporting group saya: TUM Birth club August 2014, dan Alhamdulillah jadinya malah Kopdar akbar yang isinya bukan hanya temu peluk, tapi kami semua merayakan ulang tahun pertama putra-putri kami \(^o^)/ yeayyyy seru kan?

Jadi, dimulai Februari, ada wacana nih untuk bikin acara bertajuk kopdar akbar untuk group kami ini, dan karena semua mama ini kreatifitasnya tinggi sekali, dimulailah digagas untuk bikin acara birth day sekalian. Dan mulai ide untuk bagaimana kalau kita ajak olshop ataupun siapapun yang berhubungan dengan dunia emak-emak dan bayi.
Nah, dari wacana dimulai sampai menjelang masuk bulan puasa, kami masih santai, ketika bulan puasa, baru deh adrenalin seperti dipacu untuk mulai merapatkan barisan. SIAP GERAKKKKK!!!!

Mulai berbagi siapa yang handle disain kartu undangan, logo, kue, tumpeng dan sampailah saya mau mengajukan diri sebagai pembuat naskah kerjasama yang akan kami tawarkan ke olshop dan media partner untuk acara kami nanti.

Dan here we go! Logo unik nan menarik buatan Papa Arsy , Ahh terima kasih Papa Arsy sudah bikin ini jadi keren.


Inilah honeybee yang teriring doa, semoga bayi-bayi kami yang sedang bertransformasi menjadi new toddler bisa seperti Bee. Menebarkan banyak manfaat bagi semua :) Amiin

Setelah logo jadi, mulai deh Mama Gendhis mondar-mandir mengurusi dan memastikan agar kaos seragam para baby pas dan sesuai disain. Hari H pastilah Mama Lois yang paling repot, berdua Papa Lois  mereka merangkai tali untuk bikin backdrop dan kartu ucapan untuk para baby terpampang nyata. Turut serta Mama-mama yang lainnya yang bantu merapihkan potluck,  dan arena bermain.

Dan inilah sebagian foto dari acara kami. 



Add caption




The Urban Mama Birth Club August 2014
Bogor, 16 Agustus 2015


Akhir kata, Saya pribadi ucapkan terima kasih penuh kasih sayang untuk mama-mama dan papa-papa kesayangan TUM ABC 14. Serta Theurbanmama.com sebagai tempat bertemunya kami dan juga pendukung setia kami. Terima kasih juga untuk para supporter yang mensponsori acara kami sehingga bertabur hadiah.

Love,

-Manda-

Thank you our sponsors:
8. Nonopoy
11. Gallenina
14. Aigobaby
15. Baby step
19. G_Hijab
20. Gemesh
23. Tharamipa
24.  Mamioils
25. Mamayara
31. Omma Inne
32. Mama Adziah Narsiwi
4

I heart You, TUM ABC'14

Assalamu'alaikum...

Haloha...Agustus,,,wohooooo! It' your month, babies!

ok kita skip dulu ya membahas keriuhan Agustus sebagai bulan penuh pesona setelah saya mempunyai Rinjani :)

Saya ingin membahas tentang 'supporting group' yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Supporting group saya ini dimulai dengan perjumpaan kami secara virtual di sebuah subforum Urbanmama TUM ABC'14. Subforum dimana para mama yang mempunyai HPL (Hari Perkiraan Lahir) di bulan Agustus 2014.

Seorang teman yang bernama virtual BettyB ini si penggagas utamanya. Muncul satu per satu mama yang berHPL Agustus 2014. Kemudian setelah dirasa lumayan banyak (seingatku ada 8 orang), ada yang berinisiatif untuk membuat grup whatssapp agar bisa lebih sering chit-chatnya :) Nah, dari sinilah keakraban kami terbina.
Setiap hari ada saja yang menarik untuk dibahas, dari bahasan yang membuat kami mewek, sampai obrolan yang bikin kami cekikikan sendiri depan gadget :D Dan ini terus terjadi sampai sekarang.

Allah takdirkan kami untuk bersama-sama saling berbagi pengetahuan, pengalaman, kebahagiaan tentang bagaimana menyiapkan diri sebagai Ibu baru. Dari sebelum sampai setelah melahirkan kami bersama, dan semoga kekal abadi. Amiin..

Kami semua mengusahakan untuk bayi lahir normal, tapi apa daya takdir memutuskan ada beberapa Mama yang harus lahir dengan sc. Pun kami semua mengusahakan agar bayi minum ASI minimal ASI eksklusif, dalam perjalanannya, alhamdulillah hampir semua bayi berhasil ASI eksklusif :) Begitu besar partisipasi antara satu dengan yang lain dan ini yang membuat haru. Padahal, pada awalnya, ketika kami memulai obrolan kami semua membahasakan diri kami dengan sebutan mama, janggal memang, hehehehe: misalnya Mom Ayu, Mom Airin, tapi lama kelamaan koq dirasa kayak bikin nggak akrab ya, jadilah berganti deh: ada yang dipanggil mbalil, mbaDe, Teh Ast, Nana, dll :D semuanya boleh panggil nama yang dirasa pas.

Terasa sekali manfaat TUM ABC'14 ini. Di saat di luaran sana banyak energi negatif yang saling berebut untuk masuk ke diri, refresh yang baik adalah bertukar pikiran atau sekedar menyapa saudara-saudara saya di grup ini. Dulu saya termasuk tipe yang judgmental yang terkesan idealis jika saya menjadi ini/itu. Tapi, selama bergabung di grup empati saya, empati kami terbangun untuk tidak saling menjudge satu sama lain? Kenapa? Karena kami ingin saling mengerti untuk belajar bersama-sama bagaimana menjadi Ibu terbaik bagi anak-anak kami. Ketika akan memutuskan melakukan tindakan apa sebelumnya pasti kami akan membahas dulu di grup. Dan Hamdalah, di grup ada 2 praktisi kesehatan. Mereka berdua inilah yang jadi sumber referensi kami, terlebih yang satu, papi-maminya dokter (kami memanggil keduanya dengan oma-opa*sok ikrib*),,aihh lengkap sudah ini :)

Tidak ada yang berusaha menjadi yang paling benar, yang paling tua, yang paling bisa, semuanya saling menghargai. Bersyukurnya saya mempunyai mereka, mereka yang mau berbagi untuk mendengar suka dan duka saya tanpa harus menilai sisi negatifnya. Itu kuncinya kan? Hidup sudah terlalu rumit, jangan rumitkan dengan mengajak dan menebar negative thinking ke sekitar :)

Ohya walaupun kami dipertemukan dan sering bertemu secara virtual, tapi tidak lantas membuat kami tidak saling mengenal secara nyata. Sudah 2 kali kami menyelenggarakan kopdar, dan Agustus ini kali ke tiga dan InsyaAllah akan jadi kopdar akbar kami, karena selama ini kopdar dilakukan per domisili: Kopdar Jakarta, kopdar Bandung :) Dan saya dan satu sahabat pernah tidak sengaja kopdar di RS. Melinda karena anak-anak kami yang panas badannya tak kunjung turun, jadi harus periksa ke dokter.

Manfaat supporting group yang saya ceritakan di atas, rasanya belum lengkap dengan aspek teoritis ya, baiklah, mari kita bahas sedikit ya!
Tahun 1989, seorang profesor psikiater dari Stanford University bernama David Spiegel menerbitkan sebuah makalah bersejarah di Lancet. Ia menyatakan bahwa pasien kanker payudara yang berpartisipasi dalam support group—grup berisi orang-orang yang saling mendukung—dapat hidup dua kali lebih lama dibanding mereka yang tidak berpartisipasi.
Luar biasa, bukan? Hanya dengan berkumpul dengan mereka yang mendukungmu, akan bisa membuat hidupmu berkali lipat bahagia :)

Di era digital yang semuanya [mungkin] bisa dilakukan hanya dengan "one-touch", saya rasa tidak sulit untuk mempunyai satu supporting group. Tidak usah beranggotakan banyak, karena bukan grup komersil :D Dan yang terpenting, niat kebersamaan yang tidak neko-neko yang akan bikin grup itu awet, terus hidup tanpa keterpaksaan, terus menyemangati karena merasa sehati dan sama-sama punya amanah untuk mendidik dan mengurusi buah hati kami...InsyaAllah


Salam,

-Manda-








6

Bonding ayah+anak=Romantis

Hayhayhallo.....Assalamu'alaikum :) Ramadhan mubarok, everybody ^__^


Saya mau berbagi sedikit tentang episod favorit dalam hidup saya sebagai seorang Ibu. Bonding daddy&baby time. Para Ayah pasti sesekali sudah lakukan ini, walaupun tidak intens dan tidak begitu memperhatikan manfaatnya. Gimana kalau tahu manfaat bonding ini ya, semoga tambah semangat lagi bondingnya :) 

Kami memulai cerita bonding ini karena kepepet, hahaha ya benar, karena kepepetlah menjadikan kami apet (bahasa sunda dari hubungan yang sangat erat). Dimulai dari Jani keluar dari rahim, Yanda, begitu saya sepakat memanggil lelaki keren kepunyaan saya dan Jani, hehehe, selalu menemani kemana Jani pergi. Mulai dari Jani dibersihkan, dimandikan, kemudian saya dan Jani melakukan IMD, Yanda mendampingi, saya ingat betul, pukul 4 pagi di 23 Agustus 2014, Kami berbaring di satu kasur (masih di ruang tindakan), saya menyusui Jani dan kami bertiga berpelukan dan tertidur pulas sampai pukul 6. Itulah bonding saya, Jani dan Yanda untuk pertama kalinya. Hari-hari berikutnya, bonding sudah lumayan jarang bertiga, cuma saya dan Jani atau Yanda dan Jani. 

Bagi saya manfaat bonding Yanda dan Jani ini banyak sekali:

1. Saya bisa sejenak istirahat, lumayan sekali bisa meregangkan otot-otot yang tegang karena seharian beraktivitas :p Disini para Ibu yang biasa mengurusi bayi, apalagi bayi pertamanya bisa sedikit melakukan 'me-time' : keramas, pijat-pijat kaki atau apapun yang ingin Ibu lakukan dengan waktu yang tidak lama tentunya.

2. Hubungan emosional sebagai seorang Ayah semakin kuat. Tidak jarang Ayah baru sedikit belum terlalu dekat dengan bayinya, karena merasa takut memegangnya, takut kalau bayinya nangis, tidak mau dipipisin bayi, dsb. Bonding bisa membantu para Ayah melewati ketakutan ini. Karena secara naluri, kita semua diberi naluri untuk tidak melakukan sesuatu yang membahayakan, bukan?
Dan tidak hanya hubungan emosional sebagai seorang Ayah terhadap anaknya yang muncul, tetapi juga Ayah terhadap Ibu juga menguat. Ayah faham bahwa ia bisa membantu Ibu dengan melakukan hal-hal yang bisa membuat Ibu nyaman, rileks, tenang, senang dan kenyang :p

3. Obat penawar badan panas :) Skin to skin sejak Jani lahir hampir 80% dilakukan bersama yanda. Jika sesi menyusui dirasa belum cukup untuk menurunkan panas bayi, skin to skin khusus perlu dilakukan, metode kanguru namanya. Biasanya mereka tertidur pulas berdua, dan bangun-bangun panas Jani sudah normal kembali.

4. Seringnya bonding Ayah dan Anak baik untuk perkembangan otak dan emosi anak. Bersama Ayah, selalu ada hal-hal kreatif, berani, menyenangkan dan kebebasan seolah-olah didapat sang anak. Benar juga, saya sebagai Ibu masih terlalu sering monoton, lumayan banyak bilang 'NO' ke Jani yang setiap detiknya sedang hobi bereksplorasi dengan benda-benda sekitar, dibanding Yanda yang lebih sering membiarkan jika yang Jani lakukan masih dalam hitungan normal :D 

Tiga bulan pertama dimana saya masih dalam masa-masa cuti, di malam hari, Yandalah yang bisa bikin Jani tertidur, berbeda setelah saya mulai masuk kerja sampai sekarang, Jani maunya tidur sambil disusui dan dipeluk :) dan ternyata Yanda rindu masa-masa kalau Jani nangis, yandalah yang bisa mendiamkannya, kalau Jani susah tidur, Yanda yang gendong sambil dilantunkan ayat-ayat pendek. Efek plus plus dari bonding, nih! :)

Jika sekarang Jani sudah bisa berbicara, pasti jika ditanya 'Jani mau mandi sama siapa?' pastilah Jani akan menjawab mandi bersama Yanda itu menyenangkan, mereka bisa menghabiskan 1/2 jam untuk acara mandi ini. Berenang, menyelam (di ember,hehehhe) dan bermain buih bersama. Berbeda kalau Jani dimandikan saya :p

Dan karena efek bonding yang sangat amat baik ini, hal-hal perdana yang dicoba oleh Jani pastilah dilakukan oleh Yanda: pakai wrap dan ergobabybaby spa di rumah, MPASI, berkebun dan mentitah Jani (Jani baru sepuluh bulan kemarin, dan sudah mulai mau berdiri dan dititah).




Gimana Ayah? Semakin semangat untuk bonding, kan? Semoga kita bisa memulai hal-hal kecil yang berefek besar untuk anak-anak kita ya, Amiin.


Salam sayang dari kami (Manda, Jani dan Yanda) :*

.:. Untuk ulasan lengkap bisa dilihat di Link  berikut: the importance of father child bonding atau yang baru-baru ini dipublish oleh salah satu produk bayi Manfaat kedekatan antara ayah dan anak .:.



7

23 Jam Proses bertemu Jani #End

Pada akhirnya...
Kita akan dapatkan apa yang kita usahakan
Kita akan jalani apa yang kita percayai

Dan saya berhasil mendapatkan apa yang saya cita-citakan, dengan dorongan mereka yang terkasih saya bisa melahirkan secara normal. Saya menikmati masa-masa berjuang, saya menikmati masa-masa Inisiasi Menyusu Dini (IMD), saya menikmati semua yang saya percayai. 

Terima kasih Allah untuk semua episod hidup yang harus lebih banyak lagi saya syukuri
Terima kasih Yanda untuk pendampingan dan cintanya
Terima kasih Bapak, Ibu, Mama, Papa yang telah mendoakan dari jauh
Terima kasih putri tercinta kami, Vidita Rinjani Zulkarnain, telah memilih kami sebagai malaikatmu di bumi





Bidan Tio Debora, Am.Keb -bidan baik hati kepunyaan RS Borromeus yang membantu proses lahiran sehingga lahiran saya menjadi indah dan bahagia untuk dikenang



0

23 Jam proses bertemu Jani #Part2

Suami pamit untuk shalat maghrib...meninggalkan saya yang sedang merenung...
Merenungi kenapa saya tidak berjuang dari pagi tadi, mengapa tega para suster menggosipkan saya karena saya yang banyak tahu perihal induksi dan mereka merasa saya bandel untuk menolak induksi.

Saat petugas membawa makanan datang dan bertanya apakah makanan akan dirapihkan karena memang belum ada yang saya makan, semuanya masih terbungkus plastik wrap. Saya meminta tolong untuk diambilkan baki makanan itu, dan seperti orang yang tidak makan berhari-hari, saya makan, saya mau berjuang, saya mau melahirkan Jani dengan normal, saya mau suami tidak khawatir, saya mau berjalan agar bukaan ini bertambah. 
Lahap saya makan, dan sepulangnya suami dari shalat, saya salami dia seperti biasa sambil bilang (tentunya pakai air mata) saya mau berjuang  untuk lahiran normal, dan minta ditemani untuk berjalan-jalan agar bukaan saya nambah. Dan suami mendekap penuh semangat, dan berbisik, ayo....kamu pasti bisa. Dan sambil masih mendekap erat, suami mengajak bercanda dengan bilang: Wah, baki makannya bersih uy, ada yang mamam hebat ya! I love you....Endingnya ya berpelukan yang kemudian suami rapihkan sarung saya, karena biar lekukan badan saya yang walaupun sudah pakai daster gombrong itu tidak kelihatan.

Kami berjalan menuju food court, dan suami izin lagi untuk shalat isya, sembari saya menunggu saya baca-baca lagi kumpulan chat dari grup ABC 14 yang terus bertanya keadaan kami dan tak henti-henetinya menyemangati dan berdoa.. I heart you, guys :*
Suami selesai shalat dan lanjut menemani saya menaiki tangga dan menuruni tangga, jalan putar sana-sini setia sekali menggandeng dan sesekali memapah saya. Malam itu serasa kamilah bintang disana :) Tak terasa langkah kaki ini menapaki ruang lobby RS yang disana banyak kursi tamu tempat mereka berkumpul menyambut tamu atau duduk santai. Duduk sebentar, sesekali merasakan mules yang aduhai, berlatih mengatur nafas, yang lagi-lagi suamilah coach terbaik saya. Karena sudah berjam-jam dan sudah jam 10.00 malam, suami mengajak saya kembali ke ruang VK. Disana sudah ada satu suter yang sedari tadi bolak-balik kamar saya rupanya.
Dengan senyum terkembang, ia menghampiri kami: Wah, jalan-jalan ya, sudah semangat lagi kan Ibu, harus semangat ya harus bahagia! Itulah kalimat pertamanya yang membuat saya jatuh cinta. Suster lakukan CTG dan cek bukaan, dan waw sudah 6 masuk 7 lho! Ayo Ibu pasti bisa ya, semangat! Karena memang tidak mau induksi jadi bapak harus tandatangani form ini, tapi tenang, saya yakin ibu bisa lahiran normal dan bahagia. Ini proses bukaannya sudah mulai bagus, semangat gerak berdiri jongkok biar semakin cepat bukaannya.

Adrenalin saya seakan bangkit lagi, saya katakan ke suami: Semoga Allah izinkan saya lahiran dengan suster ini, saya suka sekali perlakuan lembutnya. Dia tidak memarahi, bahkan tidak sedikitpun mematahi semangat saya. Ayo bantu saya lagi untuk bergerak. Suami menyemangati dan ya namanya juga suami saya manusia biasa, sudah habis energinya seharian ini, ia pamit tidur, dan berpesan, kalau pengen ngeden, coba tarik tangannya saja biar keinginan ngeden hilang akrena memang belum boleh. Ditinggal tidur, saya berjuang dengan mules, mules datang, saya atur nafas, menarik tangan suami dan karena terlihat jelas ia sangat lelah, saya alihkan dengan menarik pinggir ranjang, meliuk-liuk seglaa gaya agar kontraksi hebat ini bisa berujung bukaan naik.

Suster datang tiap jam, suami kadang terbangun dan tertidur lagi sampai pada pemeriksaan di jam 00.30 bahwa bukaan saya sudah sampai di angka 8,,, Ya Allah angka 8 menuju 9 dan menuju lengkap..mudahkan Ya Allah,,mudahkan!
Suami bangun terpaksa karena suster sudah mulai memasukkan alat perang,hehehhe yang isinya segala gunting, infus, tong sampah medis, karpet, kapas, dllnya dan yaaa satu lg yang membahagiakan, suster sudah siapkan boks bayi yang lampu pemanasnya sudah dinyalakan, haru semakin menjadi dan semakin semangat ku hadapi mules. Jam 1 bukaan sudah 9 dan hanya seperempat jam bukaan lengkap.

Aku sudah disiapkan dengan posisi mengangkang, dibaringkan dengan setting-an tempat tidur yang agak ditinggikan. Ada gunting yang siap merobek sesuatu tapi sudah terpikirkan lagi akan berapa jahitan, yang jelas akan segera tiba waktu bersama si kecil kami. Ohya, ketuban saya juga ikut digunting dan wow, airnya masih bening dan banyak sampai-sampai si suster nyaris bajunya basah kesemprot air ketuban. Dan sekarang ngeden sudah dibolehkan tapi pakai aturan, jadi kalau rasa ngeden datang, saya harus mengeden dengan sekali nafas, tidak boleh dua kali, beberapa momen ngeden terlewati begitu saja karena memang masih belajar ya sodara-sodara,hehehehe. Rasa ngeden datang, saya disemangati dengan teriakan ayo bu itu rambutnya udah terlihat, pun suami ikut-ikutan menyemangati, iya bener itu rambutnya (ps: ternyata suami tidak jelas melihat rambut Jani, itu sekedar ikut-ikutan menyemangati saja -___-), ngeden lagi namun masih pendek, dan tibalah ngeden panjang dan disuruh ambil nafas lagi biar ngeden kuat dan katanya bayinya udah mau meluncur, dan terakhir saya disuruh batuk, dan saking terbawa suasana layaknya di stadion itu, saya lupa bagaimana cara batuk hahahahha. Dan suami ajari saya batuk: uhuk,,,lalu terasa kaki kecil menendang jalan keluar, dan lahirlah putri pertama kami. Tepat di pukul 02.13 am 23 Agustus 2014 dengan berat 2.680 dan panjang 48cm.

                                             
   
Back to Top