0

Doing Business UKM in Indonesia (update from IFC and World Bank)

Kamis, 04/11/2010 18:14 WIB
Peringkat Doing Business Turun
RI Makin Tak 'Ramah' Untuk UKM
Nurul Qomariyah - detikFinance

Washington - Peringkat Indonesia dalam hal kemudahan berbisnis untuk para UKM lokal ternyata memburuk. Peringkat RI dalam kemudahan berbisnis untuk UKM lokal bahkan hampir sejajar dengan negara-negara kecil di Afrika.

Indonesia tercatat hanya berada di peringkat ke-121 dalam hal kemudahan berbisnis untuk wiraswasta lokal berdasarkan pemeringkatan 'Doing Business 2011'. Peringkat ini berarti turun, karena untuk 'Doing Business 2010', Indonesia ada di peringkat 115.

Dari 9 penilaian 'Doing Business 2011', Indonesia tercatat mengalami penurunan paling buruk dari sisi akses kredit. Sementara poin yang membaik adalah permulaan bisnis.

Demikian laporan "Doing Business 2011: Making a Difference for Entrepeneurs" yang dirilis Bank Dunia, Kamis (4/11/2010). Laporan ini merupakan yang ke-8 dari rangkaian laporan tahunan yang dipublikasikan oleh International Finance Corporation (IFC) dan Bank Dunia. Laporan ini meliputi 183 negara terhadap aspek-aspek regulasi bisnis kunci untuk perusahaan lokal.

Peringkat pertama masih diduduki oleh Singapura, yang dinilai paling ramah untuk berbisnis UKM. Posisi juru kunci diduduki oleh Chad. Dua negara lain yang berada dalam posisi terbawah adalah Republik Afrika Tengah dan Burundi.

Sedangkan China tercatat berada di peringkat ke 79, hampir sama dengan Vietnam dan Timor Timur. Namun ketiga negara ini termasuk negara-negara yang mengalami perbaikan paling signifikan dalam 5 tahun terakhir.

Laporan ini membuat pemeringkatan dari 1 hingga 183, berdasarkan peringkat indeks kemudahan berbisnis, yang berarti semakin bagus peringkatnya, maka perusahaan lokal semakin mudah untuk memulai usaha dan beroperasi.

Peringkat dibuat berdasarkan 9 topik yang dibuat dari berbagai indikator. 'Doing Business 2011' ini meliputi periode Juni 2009 hingga Mei 2010. Sembilan indikator itu adalah: Permulaan bisnis, berkaitan dengan izin konstruksi, pendaftaran properti, akses kredit, perlindungan investor, pembayaran pajak, perdagangan lintas batas, pelaksanaan kontrak dan penutupan bisnis.

Dalam 5 tahun terakhir, sekitar 85 persen dari negara-negara dunia telah mempermudah para wirausahawan lokal untuk beroperasi, melalui perbaikan terhadap 1.511 aturan. Doing Business 2011 merupakan perhitungan baru untuk menunjukkan seberapa besar regulasi bisnis telah berubah di 174 negara sejak 2005.

China dan India masuk dalam jajaran 40 negara yang mengalami perbaikan paling besar. Diantara 30 negara yang mengalami perbaikan paling besar, sepertiganya berasal dari sub sahara Afrika.

Secara keseluruhan di dunia, lebih dari setengah regulasi telah berubah dalam 5 tahun terakhir sehingga mempermudah permulaan bisnis, perdagangan dan pembayaran pajak. Beberapa perbaikan melibatkan teknologi baru.

"Teknlogi baru mendukung penerapan aturan terbaik di seluruh dunia. Teknologi membuat kepatuhan lebih mudah, mengurangi biaya dan lebih transparan," ujar Janamitra Devan, Vice Presiden Financial and Private Sector Development.

Perbandingan peringkat Doing Business 2011 untuk wirausahawan lokal diantara negara-negara ASEAN adalah:

  • Singapura: 1
  • Thailand: 19
  • Malaysia: 21
  • Vietnam: 78
  • Brunei Darussalam: 112
  • Indonesia: 121
  • Kamboja: 147
  • Filipina: 148.

Peringkat 5 besar terbaik dalam Doing Business 2011 adalah: Singapura, Hong Kong, Selandia Baru, Inggris dan AS.


Hmm.....little capture from me:

Awali dengan huznuzhan, Bismillah first-->akses kredit sedikit? Hmmm....belum merata penyebaran sosialisasi ataupun realisasi pemberian kredit bagi UKM di Indonesia(mungkin). Jika dilihat UKM sangat potesial untuk menciptakan lapangan kerja baru, sumber pendapatan tetap atau sekedar menyediakan "jajanan" bagi masyarakat lokal. Namun sayangnya, brand image yang entah itu diciptakan oleh image dari sebuah brand atau banyak 'gengsi' bermain disini. Yang jelas, produk lokal selalu tersaingi dengan produk impor, baik itu dengan harga beli mahal atau bahkan murah. Wait....apakah hanya daya beli yang mempengaruhi hidup para pengusaha UKM ini? Owowow....ternyata sisi terpenting adalah bentuk "Perhatian" dari pemerintah yang sangat berperan. Baik itu dari sisi dukungan regulasi/pemahaman berusaha atau berdagang, akses kredit sampai perannya sebagai Quality Control dan yang terpenting adalah kepercayaan dari pemerintah bahwa pengusaha UKM tersebut bisa dan mampu tumbuh, bermain di ranah perdagangan baik itu pasar lokal ataupun pasar internasional.

Terlepas dari akan terus dimunculkan seri demi seri dari drama terbongkarnya Korupsi Indonesia-Ku dan kejutan-kejutan kecil dari bumi, yang hampir semua mata, semua pikiran tertuju kesana....Semoga masih ada seorang abdi negara yang perduli akan nasib masyarakat kecil ini, semoga masih ada ia yang mau bergemul dengan debu demi sampai ke rumah masyarakat kecil untuk bersosialisasi mengenai bagaimana bisa memunculkan uang, bukan bagaimana bisa mencari uang, semoga masih ada seorang abdi negara yang mau membimbing mereka yang belum tahu, mampu membimbing agar mampu bertahan di arena pacu, bukan abdi negara yang hanya mau jika prosentase keuntungan yang ia dapatkan ketika berbuat yang demikian itu sebanding, Semoga masih akan terus ada....Mereka yang menjalani hidup dengan hati dan cinta hakiki mereka ^___________^

Mari bersama Merangkai Senyum Indonesia, aku, kamu, kita semua, berbuat maksimal dalam koridor kita masing-masing, dalam arena pacu kita masing-masing, tak ada yang jabatan yang paling penting, tak ada jabatan yang paling terhormat, yang ada hanyalah kontribusi terbaik. Indonesia kini menunggu hadirmu, menunggu karyamu...

Banyak Jalan Menuju Roma, Jauh lebih banyak lagi jalan menuju Syurga
Mari berbuat sebayak-banyaknya Manfaat selagi nyawa masih di kandung badan
blogger-emoticon.blogspot.com
Back to Top