3

Mau tau,lubang pembuangan terkotor di dunia?

 ****
"Kalian tahu lubang pembuangan paling kotor di dunia?" Nek Kiba memukulkan rotan ke lantai papan, menyuruh kami memperhatikan ke depan.
"Mungkin lubang tolet di rumah, nek!" Burlian mengacungkan tangan-seperti biasa sok tahu.
Nek kiba menggeleng. Bukan itu. "Mungkin tempat sampah kampung, nek!" Can ikut mengacungkan tangan-seperti biasa ngasal. Oi, mana ada lubangnya disana? Kau asal bunyi saja." Nek kiba menyemburkan kunyahan sirih ke gelas. Anak-anak yang sedang belajar mengaji tertawa, menertawakan Can yang menggaruk kepala.
"Mungkin pipa pembuangan pabrik karet, nek!" Aku ikut mengacungkan tangan. 
"Bukan. Meski kai benar, memang bau sekali pipa itu.Membuat mual." Dan kami terdiam. Satu menit. Hanya tetes air hujan yang terdengar. Lima menit.
"Kalian mau tahu?" Nek kiba menatap kami lamat-lamat. Kami smeua mengangguk. Ah,kalau sudah begini, cara Nek kiba bercerita dramatis sekali,semua anak menatap antusias wajah tua dengan banyak kerutan itu.
"Lubang pembuangan terkotor di dunia adalah MULUT KITA." Nek kiba menghela nafas pelan,"Mulut kitalah yang setiap hari mengeluarkan bau paling memualkan, mulut kitalah yang tega mengunyah bangkai, mulut kitalah yang menelan lantas memuntahkan kotoran busuk..."Oi, andaikata kalian bisa menjaganya,tetapi kebanyakn dari kalian tidak bisa menghindari mulut mengeluarkan sampah-sampah tidak berguna, meski tidak bau dan tidak mengganggu. Kalian tetap mengeluarkan ucapan mubazir, perkataan sia-sia. Apalagi yang sama sekali tidak bisa menjaganya. Sungguh itulah lubang pembuangan terkotor di dunia."

Pukat-serial anak-anak Mamak-, Tere Liye:271

Novel berjudul 'Pukat' baru saja ku beli 2 hari yang lalu. Sebenarnya udah lama pengen beli, dan terpikat dengan judulnya, ditambah lagi 'kata Mamak' melukiskan bahwa ini novel pasti berbau melayu...Dan benar saja, novel yang bercerita tentang kehidupan sebuah keluarga, sebuah perkampungan, sebuah peradaban yang dirindukan pada masa sekarang ini. Peradaban dimana alam berdampingan baik dengan mahluk hidup, jauh...jauh sekali dari keserakahan seperti sekarang ini.

Petikan cerita di atas, sengaja ku tulis, sebagai pengingat bagi diri sendiri yang suka lalai menjaga mulut ini. Mulut yang hmmm....bisa menjadi santapan api neraka saat di hisab kelak, betapa tidak...Mudah sekali mulut ini mengeluarkan cacian, hinaan, hasut bahkan ghibah(menggunjing)...Mudah sekali bilang dia tolol, dia bodoh, dia norak...Tanpa sadar setiap kata-kata yang keluar itu bak Pisau yang merobek hati siapa saja yang mendengarnya.
Mulutmu cermin hatimu...Selamat menjaganya..Jadikan ia mulut terindah, tidak keluar darinya kata-kata kecuali kata-kata manfaat, kecuali kata-kata hikmah...

Semoga,
with love,
Vi^^

3 comments

27 February 2011 at 23:07

Menurut saya mulut itu sama seperti pedang. Bila pedang d tenteng k tempat rame tanpa sarung, pedang itu secara tdk sengaja pasti akan melukai banyak orang.

Muda2an kita senantiasa menjaga setiap perkataan....

28 February 2011 at 12:11

amiin, mudah2an y:)

21 July 2011 at 09:58

bener juga ya. mulut kita itu kan sering ngucapin segala macam perkataan yg kasar dan gak baik. hmm...harus hati2 nih menjaga perkataanku

Post a Comment
Back to Top